Sabtu, 07 April 2018

Mengapa Harus (Jalan Bareng) Bule?

.: Lalu lalang para pejalan mancanegara :.

Setiap generasi selalu melahirkan pengalaman dan fenomenanya sendiri. Hampir tiga tahun berselang, saya pernah menulis di sini tentang betapa sebagian orang Indonesia begitu suka berfoto dengan bule. Mereka menjadikan itu sebagai sebuah kebanggaan sebagaimana bangganya mengungkapkan sesuatu dalam bahasa Inggris. Seolah ada sesuatu yang spesial atau menjadi bernilai lebih jika hidup kita bersinggungan dengan bule. Padahal kan, ya biasa saja gitu.

Dari dulu, saya tidak menganggap bahwa bule itu 'sesuatu' banget. Ya biasa saja. Persinggungan hidup saya dengan bule juga berlangsung alamiah saja. Sama seperti saya kenal atau bersinggungan dengan orang Indonesia pada umumnya. Meski dulu sempat canggung karena masalah bahasa, saat ini hampir-hampir tidak mengalami hal itu. Apalagi, semakin jauh (dan sering) melakukan perjalanan, semakin sering pula saya bergaul dengan bule. Dan karena sudah begitu seringnya, saya semakin merasakan hal yang biasa saja terhadap bule. Intensitas itulah yang perlahan-lahan membuat saya paham dan mungkin semakin menegaskan pandangan saya terhadap bule. Berikut ini beberapa hal di antaranya.

Sabtu, 17 Februari 2018

Singgah Sejenak di Pulau Kelor

.: Selamat datang di Pulau Kelor :.

Begitu perahu yang saya tumpangi mengangkat sauh dari dermaga Loh Buaya di Pulau Rinca, rasa-rasanya semua penumpang merasakan sensasi yang sama. Di satu sisi terlihat lelah, di sisi yang lain begitu bersemangat mendiskusikan naga purba yang baru saja mereka temui sepanjang jalur trekking. Matahari begitu semangat menjerang. Angin sepoi berkelindan. Pelan tapi pasti, perahu kembali merandai perairan Flores berarus deras.

Perjalanan mengarungi Taman Nasional Komodo tak ubahnya berlari dalam sebuah labirin yang rumit. Di atas peta, destinasi unggulan pariwisata nusantara ini terlihat seperti periuk belanga yang dibanting di atas lantai. Berserakan. Pulau-pulau mungil yang mengapung di atasnya ibarat titik persinggahan yang diurai melalui selat-selat cupet berair pirus. Seminggu mengarunginya, saya mulai mengidap sindrom lupa nama-nama hari.

Minggu, 07 Januari 2018

Tak Ada Ora di Gili Lawa

.: Pemandangan dari Puncak Gili Lawa Darat :.

Jauh sebelum Pulau Padar menjelma destinasi ikonis untuk menikmati Taman Nasional Komodo dari ketinggian, Gili Lawa merekah sebagai primadona. Daratan mungil ini kerap disambangi pengunjung sebelum mendarat di Pulau Komodo. Pantainya landai dan berpasir putih. Lautnya dangkal dan tidak berombak. Sebuah selat cupet menjadi pemisah antara dua daratan yang pernah bersatu di masa lampau, membentuk lekukan unik serupa bendungan alam. 

Setelah bertarung dengan ombak dan badai dalam pelayaran sembilan jam dari Pulau Satonda, kapal yang saya tumpangi merapat di Gili Lawa Darat. Gili Lawa Laut sengaja dilewatkan karena selain topografinya serupa dengan Gili Lawa Darat, menurut perhitungan sang pemandu, tak ada cukup waktu untuk mengejar perjalanan menuju Pulau Komodo pada siang hari nanti. Tak ada dermaga di Gili Lawa Darat. Pulau ini sepi seperti pagi yang baru saja dimulai. Hening. Air laut sedang surut. Lambung kapal tak sanggup mencium bibir pantai. Dengan terpaksa, para ABK dengan sigap menyiapkan sampan untuk merengkuh daratan.