Rabu, 22 November 2017

Terbang dengan Riang

.:  Pemandangan di Balik Jendela Pesawat Saat Akan Mendarat di Labuan Bajo :.

Saat bepergian naik pesawat, saya selalu memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Apalagi kalau penerbangan pagi, rasanya saya selalu semangat untuk mengambil gambar pemandangan dari angkasa. Jika tempat duduk bisa dipesan saat pembelian tiket tanpa ada biaya tambahan, saya langsung memilih tempat duduk yang memungkinkan untuk mengambil gambar tanpa terhalang sayap pesawat. Tapi kalau harus membayar sejumlah uang, saya berusaha check in lebih awal supaya bisa meminta tempat duduk yang dekat dengan jendela.

Paling senang kalau terbang pagi ke arah timur nusantara. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan dua pertiga wilayahnya terdiri atas lautan, terbang di atas laut Indonesia merupakan pengalaman tersendiri. Saya sering melihat kapal-kapal besar berlayar di tengah laut, justru saat berada di udara. Saya juga pernah melihat sekawanan ubur-ubur dalam jumlah besar sedang bergerombol di permukaan laut. Melihat laut dari udara saat cuaca cerah itu lumayan bisa menjadi penyejuk mata. Gradasi warna air laut dari biru tua, biru, hijau toska, hijau muda, dan putih buih saat bertemu bibir pantai dapat terlihat dengan jelas.

Minggu, 15 Oktober 2017

Pesta Raya Negeri Singa

.: Mari Kita Berpesta :.

Malam minggu. Musik berdentum sejak siang. Geliat pesta menyeruak. Orang beramai-ramai menuju kerumunan. Singapura siap berpesta. Di dalam kereta cepat terpadu, anak-anak muda tampak membawa balon pukul berbentuk silinder menuju stadion. Warnanya merah putih. Saya luput memperhatikan hiasan bintang dalam motifnya. Jika tak ingat sedang berada di luar negeri, bulan Agustus pula, saya akan mengira sedang berada di kereta listrik jurusan Serpong - Palmerah yang penuh pendukung timnas Garuda menuju Gelora Bung Karno.

Tapi saya sedang berada di Singapura. Negeri mungil di jantung Asia Tenggara yang sedang berjaya. Tak punya agenda untuk bergumul dengan mereka yang sedang bersuka ria, saya memilih untuk menuju perpustakaan nasional. Persis seperti yang saya rencanakan semula. Saya ingin mencari informasi tentang masa lalu Singapura, termasuk sejarahnya, mengenal literasi yang ada, dan di luar itu semua, saya yakin, tak banyak (atau bahkan tak ada) orang Indonesia yang akan bertandang ke sana.  

Sabtu, 07 Oktober 2017

Bandar Bugis

.: Sebuah Jendela Kafe di Kawasan Jalan Arab :.

Deretan roda kereta bergerak dengan cepat. Mobil-mobil melesat. Kaki-kaki manusianya berderap dengan lincah. Jalanannya bersih. Jalurnya sungguh teratur. Negara mungil seukuran Jakarta ini tak henti-hentinya membuat kagum dunia. Tak ada sumber daya alam yang dikandung dalam perut buminya. Tak ada pula peninggalan ratusan tahun seperti candi atau artefak sejarah.

Namun begitu, setiap jengkal aset yang dimilikinya seolah memiliki presisi untuk menjadi magnet yang mampu menarik turis dari seluruh penjuru dunia untuk singgah. Singapura bisa jadi asing dengan istilah surga tersembunyi karena semua destinasinya sudah terpampang dalam brosur wisata. Tapi bukan berarti tak ada yang baru. Setiap tempat berubah. Setiap titik menyublim dalam tampilan baru yang lebih memikat. Dan hal-hal yang bisa dibilang baru (bisa jadi malah artifisial) justru menunggu untuk 'ditemukan' kembali keberadaannya.