Jumat, 23 Desember 2011

Berlibur ke Desa Dunia di Gili Trawangan

Desa Gili Trawangan ;-)
Seminggu setelah nonton film Arisan! 2, saya bertandang ke Gili Trawangan. Dua kali saya menonton film tersebut untuk memerhatikan dengan jeli tempat-tempat menarik yang dijadikan lokasi syuting film arahan Nia diNata itu. Gili Trawangan adalah salah satu gili (pulau kecil) yang terdapat di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Meski ada dua gili lain yang bersebelahan yaitu Gili Meno dan Gili Air, tapi Gili Trawangan lebih happening.

Ada banyak sekali bar, resort mewah, hotel, restoran, dive operator, money changer, dan segala macam toko yang menyediakan keperluan bagi wisatawan. Karena banyaknya bar, hampir tiap hari ada pesta yang dibuat secara bergantian oleh bar-bar yang tersebar di bagian timur pulau. Tak heran kalau di sini suasananya lebih meriah dibanding dengan dua gili lainnya. Banyak bule berseliweran dan leyeh-leyeh dengan pakaian minim. Slruuup. Yang membuat hebat, pub Tir na Nog mengklaim kalau Gili Trawangan adalah pulau terkecil di dunia yang ada bar Irlandianya.

Nama Trawangan sendiri diambil dari kata 'terowongan' karena di sini ada gua atau lubang yang dibangun pada masa pendudukan Jepang. (Sepertinya Jepang memang gemar sekali membuat terowongan di Indonesia. Yang saya tahu, Jepang juga pernah membuat 'lubang' di Bukittinggi dan Bandung). Konon, jaman dahulu pulau ini juga pernah menjadi tempat pembuangan bagi bagi 350 orang narapidana dari pemberontak Sasak saat penjara sedang penuh. Baru pada tahun 1970-an, pulau ini kedatangan penduduk dari Sulawesi yang kemudian menetap hingga sekarang, berbaur dengan suku Sasak dan Bali.

Welcome to Gili Trawangan ;-)
Berkunjung ke Gili Trawangan seperti berada di desa internasional. Selain banyak bule, di sini apa-apa sepertinya memang ditujukan untuk wisatawan mancanegara. Hotel dan penginapan ditata sedemikian rupa sehingga terasa touristy dengan harga selangit dan tarif dolar. Makanan juga begitu. Kebanyakan menunya juga disesuaikan untuk mengakomodasi lidah bule. Kalaupun menunya masakan Indonesia, porsinya pelit banget karena semuanya mesti 'diimpor' dari Pulau Lombok. Makanya, saat menginap di salah satu resort, saya cuek saja mengambil nasi (porsi kuli, meski tersedia juga roti sebagai pilihan) dan lauk melimpah di piring terpisah walaupun dipandang heran oleh bule-bule yang antri saat mengambil makanan.

Selain leyeh-leyeh di pinggir pantai berpasir putih dengan angin sepoi-sepoi, kegiatan favorit yang dapat dilakukan di sini adalah berenang, snorkeling, scuba diving, atau ikutan island hopping ke Gili Meno dan Gili Air. Alam bawah laut Trawangan memang menjadi magnet bagi para diver untuk berkunjung ke sini. Bahkan, di sisi timur Gili Trawangan terdapat blue coral yang hanya ada dua di dunia, selain di laut Karibia. Mantab. Kalau malas basah-basahan juga bisa ikutan 'melaut' naik glass battomed boat (perahu yang dasarnya dipasangi kaca) untuk menikmati pemandangan dasar laut. Menikmati matahari terbit dari balik Gunung Rinjani dan momen matahari terbenam di balik Gunung Agung merupakan pengalaman tersendiri. Tapi sayang sekali, pas saya ke sana pas mendung. Jadi lewat deh kedua momen cantik tersebut. Sigh.

Rental sepeda ;-)
Kalau badan tidak capek, jalan kaki keliling pulau juga jadi alternatif yang menyenangkan. Tapi perlau hati-hati kalau jalan kaki di pulau ini. Harus waspada dan jalannya di pinggir saja. Soalnya kuda-kuda yang menarik cidomo (cikar dokar motor, sejenis andong tapi mirip cikar dan beroda ban-mobil bekas) bisa nyelonong berjalan ngebut tak terkendali. Maklum, di sini tidak ada kendaraan bermotor karena larangan aturan setempat. Makanya bebas polusi. Tapi teman saya bilang, jalanannya bau kotoran kuda. Hehehe. Kalau takut gempor, naik sepeda adalah pilihan yang tepat. Di sini banyak sekali tempat persewaan sepeda yang menyediakan sepeda-sepeda bagus dan dapat disewa perjam atau seharian dengan harga terjangkau. Untungnya, bisa ditawar pula.

Naik sepeda keliling pulau atau dengan jalan kaki membuat saya tak menyadari kalau pulau ini ada juga bukit kecil yang bisa didaki untuk melihat pemandangan dari ketinggian. Soalnya, kalau sudah berjalan di sepanjang sisi timur pulau, mata rasanya seperti 'terperangkap' dan fokus menikmati resort, penginapan, bar, restoran, dan kolam renang yang memang banyak 'cendol' dan 'ikan asin'nya. Tahu kan maksudnya.;-P

Berkunjung ke Gili Trawangan rasanya seperti berkunjung ke Legian, Bali atau Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Di sini suasananya sudah terlalu ramai dan tidak cocok lagi diembel-embeli the hidden paradise. Bahkan sekarang ada juga paket tour yang memberangkatkan wisatawan dari Bali dengan kapal cepat langsung menuju Gili Trawangan.

Restricted Area ;'-(
Memang sih, sejak dikenal masyarakat luas sebagai tujuan wisata, Gili Trawangan telah mengalami banyak perubahan. Menurut para diver, blue coral di sisi timur Gili Trawangan warnanya sudah berangsur-angsur pudar karena 'hangus' terbentur jangkar atau kaki para diver yang tak sengaja menyentuh karang, dan karena kondisi alam. Tanah yang dulunya tak ada nilainya, sekarang harganya melonjak tinggi dan jadi rebutan untuk dibangun hotel, penginapan, restoran, bar, dan lain-lain. Bahkan, ada tanah yang sudah dipalang tanda peringatan Private Property, No Entry. Private Residence, No Entry. Yailah. Yang menyedihkan, kebanyakan dari hotel, penginapan, restoran itu miliknya bule. Meski ada beberapa juga sih yang joinan dengan orang Indonesia, seperti dari Bali. Dan konon, di selain dari itu semua, di Gili Trawangan dulunya juga merupakan habitat bagi babi hutan dan rusa. Tapi, pas saya jalan-jalan keliling pulau, gak nemu satu pun rusa tuh. *keluh*

Di Gili Trawangan ada juga tempat konservasi penyu bernama Turtle Conservation yang terletak persis di depan penginapan Turtle Bungalow. Bangunan konservasi tersebut dibangun oleh Garuda Indonesia (ada lambang di papan namanya) meski operasionalnya ditanggung oleh pengelola setempat.

Leyeh-leyeh ;-)
Setelah capek jalan, saya leyeh-leyeh saja di pinggir kolam renang sampai kepikiran satu hal. Kalau hampir semua tempatnya ditujukan untuk orang bule, lalu bagaimana keadaan masyarakat lokalnya. Beranjak dari kolam renang, bak Pangeran Sidharta Gautama yang ingin keluar dari istananya, saya minta ijin ke Mbak Laksmi, pramuwisma resort untuk diijinkan keluar dari resort lewat pintu belakang. Dan memang benar dugaan saya. Terdapat perbedaan mencolok antara bangunan resort dan hotel dengan rumah-rumah warga yang ada di balik tembok tersebut. Saya menemukan kehidupan yang jauh berbeda di sini.

Tak seperti di pinggir pantai yang penuh orang santai dan leyeh-leyeh, di sini orang pada bekerja. Membangun rumah, membuat mebel, atau mengasah kayu untuk perahu. Beberapa warga ada juga yang bekerja sebagai nelayan. Di beberapa sisi 'kampung' yang dekat pantai, saya juga melihat beberapa orang sedang bergotong-royong mendorong perahu yang baru jadi ke bibir pantai. Memang, tak semua penduduk lokal menikmati kemeriahan Gili Trawangan sebagai tujuan wisata meski sebagian kehidupan mereka juga tergantung dari keberlangsungan turisme di pulau ini.

Sisi lain Gili Trawangan

Yang membuat saya senang, menurut penuturan Mbak Laksmi, penduduk di Gili Trawangan bukan orang yang senang foto narsis, apalagi dengan artis. Walaupun sering kedatangan artis ibukota, tapi mereka cuek saja. Mungkin karena sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Pramusaji di restoran-restoran pun hanya ngobrol sebatas tanya pesanan. Meski tidak penting, saya ditunjukkan salah satu kamar di resort tempat saya menginap yang katanya bekas Roger Danuarta. Plis dong, what's the point, then?. Saya lebih senang saat ditunjukkan lokasi yang menjadi tempat syuting film Arisan!2 yaitu dermaga di Gili Trawangan dan hotel tempat artis dan kru film menginap.

Beachy B*tch ;-P
Tak ambil pusing, saya pun menuju dermaga tersebut untuk melihat pemandangan laut yang biru, pasir putih menghampar, dan bukit-bukit hijau di kejauhan. Ternyata dermaganya penuh dengan anak kecil yang lagi mancing ikan. Dan memang benar, saya sukses dicuekin saat meminta mereka untuk berfoto bersama. Mereka lebih asyik dengan kegiatan mancingnya daripada berfoto dengan saya. Belakangan saya sadar, foto dengan artis terkenal saja mereka enggan, apalagi foto dengan saya yang bukan artis. Ah, saya suka sekali liburan ke tempat seperti ini.

17 komentar:

  1. kmrin pas di gili saya nginepnya agak masuk ke pulau, plus pas hari jumat jadi bisa ngerasain (setidaknya) berbaur dgn masyarakat lokal (ya meskipun cuman sebatas sholat jumat bareng sih, hehehe)

    BalasHapus
  2. @ Mas Dansapar : saya cuma ngobrol sebentar saja saat main-main di dermaga dan di kampung belakang hotel, soalnya waktu itu hujan melulu, jadi lebih suka ngendon di hotel saja ;-P

    BalasHapus
  3. awal taun lalu aku ke Lombok Mas Adie, tapi sengaja ga ke Trawangan, kami berlima memilih ke Meno. Diliatin org2 krn ternyata dari 2008, baru kami lah org Indonesia yg dtg ke Meno, selebihnya bule semua. Hahaha.

    BalasHapus
  4. @ Bulan : wah, jalan-jalan melulu nih. Iya, Meno memang dianggap kurang 'happening' dibanding Trawangan. Tempatnya lebih sepi, kemarin pengen ke situ juga tapi sayang ombaknya gedhe banget, jadi saya milih main-main di Trawangan aja :'-(

    BalasHapus
  5. yang mau rental sepeda di bandung dan sekitarnya, boleh merental sepeda di "My Bike" yang khusus merentalkan sepeda yang ada di jalan jalaprang, no. 3 sukaluyu bandung. website : www.rentalsepeda.com.
    thx, arnold 0817 230 8338

    BalasHapus
  6. mas, kalo boleh tau pas di trawangan nginep dmn?

    BalasHapus
  7. aih, aku sekali ke sana 2 malam dan asyik banget! berbaur sama bule makan di pasarnya, ngobrol2 sama yang punya warung buat beli air mineral, sepedaan buat liat sunset. dan untung juga nginepnya di tengah. asik aja gitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha sebenernya pengen banget ke Gili Trawangan lagi. Pengen jogging keliling pulau gak pake kaos gitu hahaha :D

      Hapus
  8. Mantab ya jalan2 ke Gili Trawangan. Ayo bagi yang ingin ke Gili Trawangan naik Fast Boat dari Bali, silahkan kunjungi Gili Fast Boat.

    BalasHapus
  9. Wah harus nonton film arisan 2 nih.. Harus !!

    BalasHapus
  10. salah satu tempat yg pengen saya kunjungi ini..cuma belum kesampaian :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tinggal nunggu waktu saja. Nabung dari sekarang hehehe :)

      Hapus
  11. Balasan
    1. Hahaha Koh Huang mah gampang, bentar lagi juga bakal ada yang ngajak ke mari :)

      Hapus